Pemerintah Pastikan Industri Komponen Otomotif Tetap Tangguh

Written by

in

Industri komponen otomotif Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat ditopang peningkatan ekspor, kapasitas produksi yang terjaga, serta dukungan kebijakan pemerintah. Kondisi itu dinilai mendorong integrasi sektor ini ke dalam rantai pasok global.

Data asosiasi industri mencatat pertumbuhan industri otomotif roda empat sebesar 14% secara tahunan pada kuartal I-2026, yang turut membantu menjaga kelangsungan produksi komponen. Pasar sepeda motor juga disebut relatif stabil.

Ekspor dan Kapasitas Produksi

Menurut catatan industri, pada 2025 sektor komponen otomotif mengekspor ke lebih dari 100 negara dengan nilai melampaui US$ 7 miliar. Pasar utama ekspor disebut meliputi Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan kawasan ASEAN.

“(Industri komponen otomotif) fase lagi bisa ekspor ke mana-mana. jadi sebagai global supply chain,” ujar Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Peran Pemerintah dan Transformasi Industri

Rachmat menyatakan pembinaan Kementerian Perindustrian melalui program-program seperti implementasi Industri 4.0 meningkatkan produktivitas pabrik lewat pelatihan dan stimulus. Stimulus tersebut, menurutnya, turut menjaga permintaan domestik sehingga menciptakan skala ekonomi sebelum bersaing di pasar ekspor.

“Sehingga industri roda empat kan naik. Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan. Hal-hal seperti itu juga penting,” kata Rachmat.

Selain itu, pemerintah mendorong transformasi menuju kendaraan rendah emisi lewat program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang meliputi ICE hingga BEV. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan pendalaman struktur industri melalui target tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 80% secara bertahap.

Rachmat menambahkan, pemerintah terus mengeluarkan kebijakan agar industri nasional semakin terintegrasi dalam rantai pasok global. “Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain,” ujarnya.

Tantangan Investasi dan Kebutuhan Kepastian

Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan industri komponen menghadapi tekanan karena bersifat padat modal dan padat karya. Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas menjadi tantangan pelaku usaha.

Bob menilai industri komponen konvensional (ICE) membutuhkan kepastian arah kebijakan, karena insentif saat ini cenderung lebih banyak untuk kendaraan listrik sementara ekosistem komponen BEV sebagian besar belum berada di dalam negeri.

Menurutnya, pembaruan teknologi dan modernisasi peralatan produksi diperlukan agar industri tetap kompetitif. Meski ada evaluasi peta industri oleh perusahaan multinasional, ia menyatakan kabar relokasi besar-besaran dari Indonesia tidak benar berdasarkan penelusuran pemerintah.

“Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan,” kata Bob.

Isu Relokasi dan Klarifikasi Serikat Pekerja

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menyatakan pihaknya melakukan kroscek lapangan terkait isu relokasi dua pabrikan otomotif Jepang di Jawa Timur, PT SAI dan PT JAI, serta menemukan bahwa pemberitaan mengenai relokasi tidak benar.

Ristadi menyampaikan bahwa kebijakan Kementerian Perindustrian selama ini konsisten mendukung keberlangsungan industri otomotif nasional. Ia menyebut langkah strategis termasuk pengajuan insentif dirancang untuk melindungi investasi yang ada, meningkatkan utilisasi pabrik, dan memberi kepastian kerja bagi pekerja.

“Kami mendapatkan info bahwa isu relokasi ke Vietnam itu tidak benar. Fasilitas produksi tetap berjalan di Indonesia. Kami mengimbau semua pihak… untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan ke publik,” ujar Ristadi.

Ristadi juga memperingatkan bahwa informasi tidak akurat berisiko menciptakan kegaduhan, memicu kecemasan pekerja, dan mengganggu stabilitas iklim investasi. KSPN menyatakan akan terus mendorong dialog konstruktif berbasis data dengan pemerintah dan asosiasi pengusaha.

Penutup

Pelaku industri dan serikat pekerja sepakat bahwa stabilitas kebijakan dan dukungan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga daya saing sektor komponen otomotif. Sementara itu, perusahaan menghadapi tantangan investasi dan kebutuhan modernisasi agar mampu memanfaatkan peluang pasar domestik dan ekspor.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *