Kategori: Bisnis

  • Guinea Bidik Jadi Pusat Pemurnian Emas Regional

    Guinea Bidik Jadi Pusat Pemurnian Emas Regional

    Guinea melangkah untuk mengubah posisi industrinya dengan menempatkan dirinya sebagai pusat pemurnian emas di Afrika Barat. Pemerintah menggenjot kapasitas pemurnian domestik setelah mengambil kebijakan melarang ekspor emas mentah.

    Langkah ini dimaksudkan untuk mempertahankan lebih banyak nilai tambah dari komoditas tambang di dalam negeri di tengah kenaikan harga emas global.

    Pemerintah telah membangun kilang baru yang menurut pejabat negara itu termasuk salah satu yang terbesar di benua, dan ditujukan untuk memproses produksi emas dari seluruh wilayah Guinea.

    Wakil kepala Dana Investasi Pertambangan Guinea, Bangaly Steve Toure, menyebut target produksi fasilitas itu mencapai 530 metrik ton per tahun—sekitar 17 juta ons—dengan nilai investasi diperkirakan US$30 miliar. Pada kapasitas penuh, target ditingkatkan menjadi 733 metrik ton.

    Operasi kilang dijadwalkan dimulai pada bulan Juli setelah memperoleh persetujuan akhir, menurut pernyataan resmi pihak berwenang.

    “Jika setiap negara (Afrika Barat) memiliki kilang, tidak ada masalah. Jika kilang Anda tidak kompetitif, itu akan gagal atau berhasil karena faktor ekonomi, bukan politik,”

    kata Menteri Pertambangan Guinea, Bouna Sylla.

    Sylla juga menyatakan bahwa Guinea memproduksi sekitar 2,32 juta ons emas tahun lalu dengan nilai sekitar US$7 miliar, namun negara tersebut hanya mempertahankan kurang dari 1% dari nilai itu di dalam negeri.

    Upaya peningkatan pemurnian di Guinea terjadi bersamaan dengan langkah serupa dari negara-negara tetangga. Ghana—produsen emas terbesar di Afrika—serta Mali dan Burkina Faso, disebut-sebut juga tengah mengembangkan pusat pemurnian logam mulia domestik untuk menangkap nilai tambah dari emas batangan.

    Sektor produksi di Guinea didominasi perusahaan seperti AngloGold Ashanti dan Nordgold. Kawasan Afrika Barat diperkirakan menghasilkan sekitar 11 juta ons emas pada 2025, menurut perkiraan industri.

  • Bank Sentral Diperkirakan Terus Borong Emas Sampai 2026, SocGen Beri Peringatan

    Bank Sentral Diperkirakan Terus Borong Emas Sampai 2026, SocGen Beri Peringatan

    Bank-bank sentral diperkirakan akan melanjutkan akumulasi emas hingga akhir 2026, tetapi laju pembelian diperkirakan tak setajam beberapa tahun terakhir karena ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi membuat pengelola cadangan lebih berhati-hati.

    Survei World Gold Council (WGC) menunjukkan permintaan emas dari bank sentral tetap kuat. Dalam survei terbaru, 79 bank sentral berpartisipasi—jumlah terbanyak sejak survei ini dilakukan—dan 89% responden memperkirakan kepemilikan emas institusi mereka akan meningkat dalam 12 bulan ke depan.

    Hasil survei juga mencatat rekor 45% responden menyatakan institusinya berencana menambah cadangan emas, naik dari 43% pada survei 2025.

    Meski optimisme itu muncul, analis Société Générale (SocGen) memperingatkan agar hasil survei ditafsirkan hati-hati. Mereka menekankan bahwa niat membeli belum tentu langsung diwujudkan menjadi transaksi nyata, terutama karena ketidakpastian di panggung geopolitik global.

    “Seperti halnya pengelola aset lainnya, bank sentral umumnya memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap strategi portofolio dalam jangka pendek dibandingkan dalam horizon satu tahun. Karena itu, niat pembelian lebih relevan jika dilihat dalam periode yang lebih singkat,” tulis analis SocGen dalam risetnya.

    SocGen memandang konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan ketidakstabilan pasar energi sebagai faktor utama yang mendorong kehati-hatian bank sentral. Selama kondisi tersebut belum membaik, prioritas diperkirakan akan bergeser pada pengelolaan risiko daripada pembelian emas dalam jumlah besar.

    Namun, SocGen tidak mengantisipasi penghentian total akumulasi. Mereka memperkirakan bank sentral akan membeli sekitar 100–120 ton emas sepanjang sisa 2026, angka yang hampir dua kali lipat dibandingkan akumulasi selama empat bulan pertama tahun ini.

    China Masih Dominan

    Data perdagangan menunjukkan lonjakan ekspor emas Inggris pada April, mencapai 35 ton dibandingkan 13 ton pada Maret. Sebagian besar pengiriman mengalir ke China, yang tetap menjadi tujuan utama ekspor emas dunia—pengiriman dari Inggris ke China tercatat 25 ton pada April, jauh di atas rata-rata historis untuk bulan tersebut.

    Selain itu, data penyimpanan di London Bullion Market Association (LBMA) menunjukkan penurunan cadangan emas di brankas London, yang mengindikasikan peningkatan permintaan emas fisik, termasuk dari bank sentral.

    Di luar permintaan institusional, SocGen menilai arah suku bunga riil Amerika Serikat menjadi faktor penentu harga emas beberapa bulan ke depan. Ekonom SocGen memperkirakan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun akan bertahan di atas 2% hingga kuartal III-2026 sebelum menurun secara bertahap pada akhir tahun dan berlanjut hingga paruh pertama 2027.

    Ketika suku bunga riil masih tinggi, biaya peluang memegang emas relatif besar dan berpotensi menekan kenaikan harga. Sebaliknya, penurunan suku bunga riil diperkirakan dapat meningkatkan daya tarik emas, karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil kupon.

    Dengan minat yang kuat dari bank sentral untuk menambah cadangan emas dan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter pada akhir tahun, pasar emas dianggap masih memiliki fondasi yang kokoh. Namun, perkembangan konflik geopolitik dan arah suku bunga global akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga hingga akhir tahun.

  • Harga CPO Menguat Didukung Ekspor Malaysia dan Peluncuran B50 RI

    Harga CPO Menguat Didukung Ekspor Malaysia dan Peluncuran B50 RI

    Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada penutupan Senin (29/6/2026), melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Penguatan pasar dipicu oleh lonjakan ekspor Malaysia sepanjang Juni dan mulai berlakunya program biodiesel B50 di Indonesia.

    Data bursa menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 naik 19 Ringgit menjadi 4.523 Ringgit per ton. Kontrak Agustus 2026 juga menguat 19 Ringgit ke 4.558 Ringgit per ton, sementara September naik 20 Ringgit menjadi 4.588 Ringgit per ton.

    Kontrak Oktober 2026 melonjak 21 Ringgit menjadi 4.612 Ringgit per ton. Kontrak November dan Desember masing-masing naik 22 Ringgit menjadi 4.633 Ringgit per ton dan 4.653 Ringgit per ton.

    Ekspor Malaysia Dan B50 Jadi Penopang

    Menurut Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, kenaikan ekspor Malaysia pada Juni merupakan faktor utama yang menopang harga CPO. “Ekspor yang kuat sepanjang Juni memberikan dukungan terhadap harga, sementara kebijakan mandatori B50 di Indonesia menjadi katalis tambahan bagi pasar,” katanya.

    Indonesia resmi menerapkan program biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, yakni campuran 50% biodiesel berbahan baku minyak sawit dengan 50% solar. Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik CPO dan mengurangi pasokan untuk pasar ekspor.

    Data Ekspor Dan Produksi

    Perusahaan survei kargo melaporkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-25 Juni meningkat antara 10,6% hingga 11,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Pelaku pasar menantikan rilis data ekspor penuh sepanjang Juni yang dijadwalkan pada Selasa.

    Dari sisi pasokan, produksi CPO di Semenanjung Malaysia menunjukkan pemulihan lebih baik dari perkiraan, sedangkan produksi di Malaysia Timur masih relatif lemah. Supramaniam menilai kondisi cuaca yang kondusif akan mendukung produksi hingga kuartal III-2026.

    Namun, dia memperkirakan pergerakan harga masih akan terbatas hingga pasar menerima arahan baru dari laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang akan dirilis pada 10 Juli.

    Faktor Pasar Lainnya

    Penguatan harga CPO juga mengikuti kenaikan minyak nabati lain. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,65% dan kontrak minyak sawit menguat 1,26%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai tercatat naik 0,49%.

    Harga minyak mentah dunia yang tetap tinggi turut memberi dukungan karena membuat minyak sawit lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel dan memperbaiki prospek permintaan.

    Sementara itu, apresiasi nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0,44% terhadap dolar AS sedikit membatasi kenaikan harga CPO karena membuat komoditas itu lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

  • Dow Jones Cetak Rekor Baru Saat Alphabet Debut, Nasdaq dan S&P Menguat

    Dow Jones Cetak Rekor Baru Saat Alphabet Debut, Nasdaq dan S&P Menguat

    Indeks saham utama Wall Street mengawali pekan dengan reli signifikan. Dow Jones Industrial Average untuk pertama kalinya menutup perdagangan di atas level 52.000, didorong antara lain oleh lonjakan saham Alphabet saat hari pertamanya sebagai anggota indeks tersebut.

    Pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026), Dow Jones tercatat naik 306,63 poin atau 0,59% ke rekor tertinggi sepanjang masa di 52.182,74. Sementara itu, S&P 500 melesat 1,18% menjadi 7.440,43 dan Nasdaq Composite naik 2,07% ke 25.820,14.

    Saham Alphabet menjadi salah satu penopang utama reli setelah melesat hampir 5% pada debutnya di Dow Jones. Kinerja positif perusahaan induk Google turut mengangkat sentimen terhadap saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

    Komponen lain yang mencuri perhatian adalah saham Comcast, yang naik 4,4% setelah mengumumkan rencana memisahkan bisnis media dan teknologi menjadi dua perusahaan publik. Perusahaan menargetkan proses pemisahan rampung dalam sekitar satu tahun.

    Lonjakan di Sektor Semikonduktor

    Reli juga meluas ke sektor semikonduktor. VanEck Semiconductor ETF (SMH) mencatat kenaikan lebih dari 3% setelah sempat bergerak di zona merah pada awal perdagangan.

    Beberapa saham chip mengalami kenaikan tajam, dengan Astera Labs melonjak sekitar 16%, KLA naik sekitar 12%, dan Applied Materials hampir 11%.

    Sentimen Geopolitik dan Energi

    Pergerakan pasar turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar menyambut adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran terkait penghentian aksi militer dan jaminan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

    Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Presiden AS sebelumnya memerintahkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran sebagai respons atas insiden di kawasan Selat Hormuz, dan juga memperingatkan Iran agar tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata.

    Di pasar energi, harga minyak tetap menguat. Brent naik 1,61% ke US$73,15 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 2,2% ke US$70,75 per barel, sejalan dengan penilaian pasar bahwa risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang.

    Prospek Perdagangan Pekan Ini

    Portfolio Manager Equity Armor Investments Joe Tigay memperkirakan pekan ini akan relatif fluktuatif karena volume transaksi yang cenderung lebih tipis menjelang libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat (3/7/2026).

    “Likuiditas pasar kemungkinan lebih tipis karena pekan perdagangan yang lebih pendek. Di sisi lain, banyak manajer investasi juga melakukan penyesuaian portofolio menjelang akhir kuartal sehingga pergerakan harga saham bisa lebih besar dari biasanya,” ujar Tigay.

    Selain penyesuaian portofolio institusi, pelaku pasar kini menantikan kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran serta rilis sejumlah data ekonomi penting AS yang diperkirakan akan menentukan arah pasar dalam jangka pendek.

  • Dua Sentimen Tekan Harga Emas: Konflik Timur Tengah dan Fed

    Dua Sentimen Tekan Harga Emas: Konflik Timur Tengah dan Fed

    Harga emas dunia tertekan tajam pada perdagangan Senin (29/6/2026), ditutup anjlok 1,78% ke level US$4.016,66 per ons troi setelah sempat merosot lebih dari 2% pada awal hari.

    Penurunan ini dipengaruhi dua sentimen utama: meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak, serta ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

    Dua Tekanan Utama

    Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga turun, ditutup anjlok 1,6% ke US$4.030,7 per ons troi.

    Pelaku pasar mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu. Serangkaian serangan itu terjadi menyusul pernyataan Presiden AS yang mengancam tindakan tegas terhadap Iran jika tidak memenuhi ketentuan perjanjian damai final.

    Aksi saling serang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent. Lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi kembali meningkat, yang pada gilirannya memperbesar peluang The Fed menaikkan suku bunga.

    Meskipun emas kerap dianggap aset safe haven, kenaikan harga energi bisa menjadi sentimen negatif karena inflasi yang lebih tinggi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi—kondisi yang mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil.

    Dolar Menguat dan Fokus Data Ketenagakerjaan

    Tekanan lain datang dari penguatan dolar AS, yang berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam hampir setahun. Dolar yang lebih kuat membuat emas relatif lebih mahal bagi investor luar negeri sehingga permintaan melemah.

    Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini, para pembuat kebijakan memberi sinyal kemungkinan kenaikan lagi tahun ini karena inflasi masih di atas target 2%.

    Sekarang perhatian pasar tertuju pada data ekonomi AS mendatang, yakni laporan tenaga kerja versi ADP yang rilis Rabu dan data nonfarm payrolls (NFP) pada Kamis. Kedua angka itu dipandang sebagai petunjuk arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

    “Pasar sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat selama akhir pekan dan sikap The Fed yang semakin hawkish menjadi tekanan utama bagi harga emas,” kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

    Grant menilai harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan jika data tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan ekonomi. “Jika data ketenagakerjaan masih kuat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akan semakin besar. Itu bisa mendorong harga emas mencetak level terendah baru,” ujarnya.

    Berdasarkan perhitungan pasar, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini mencapai sekitar 63%.

    Pergerakan Logam Mulia Lainnya

    Di pasar logam mulia lain, pergerakannya juga negatif. Harga perak rontok 1,51% menjadi US$58,29 per ons, platinum ambles 2,13% ke US$1.583,35 per ons, sementara palladium justru menguat 1,04% menjadi US$1.225,65 per ons.