Bank-bank sentral diperkirakan akan melanjutkan akumulasi emas hingga akhir 2026, tetapi laju pembelian diperkirakan tak setajam beberapa tahun terakhir karena ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi membuat pengelola cadangan lebih berhati-hati.
Survei World Gold Council (WGC) menunjukkan permintaan emas dari bank sentral tetap kuat. Dalam survei terbaru, 79 bank sentral berpartisipasi—jumlah terbanyak sejak survei ini dilakukan—dan 89% responden memperkirakan kepemilikan emas institusi mereka akan meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Hasil survei juga mencatat rekor 45% responden menyatakan institusinya berencana menambah cadangan emas, naik dari 43% pada survei 2025.
Meski optimisme itu muncul, analis Société Générale (SocGen) memperingatkan agar hasil survei ditafsirkan hati-hati. Mereka menekankan bahwa niat membeli belum tentu langsung diwujudkan menjadi transaksi nyata, terutama karena ketidakpastian di panggung geopolitik global.
“Seperti halnya pengelola aset lainnya, bank sentral umumnya memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap strategi portofolio dalam jangka pendek dibandingkan dalam horizon satu tahun. Karena itu, niat pembelian lebih relevan jika dilihat dalam periode yang lebih singkat,” tulis analis SocGen dalam risetnya.
SocGen memandang konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan ketidakstabilan pasar energi sebagai faktor utama yang mendorong kehati-hatian bank sentral. Selama kondisi tersebut belum membaik, prioritas diperkirakan akan bergeser pada pengelolaan risiko daripada pembelian emas dalam jumlah besar.
Namun, SocGen tidak mengantisipasi penghentian total akumulasi. Mereka memperkirakan bank sentral akan membeli sekitar 100–120 ton emas sepanjang sisa 2026, angka yang hampir dua kali lipat dibandingkan akumulasi selama empat bulan pertama tahun ini.
China Masih Dominan
Data perdagangan menunjukkan lonjakan ekspor emas Inggris pada April, mencapai 35 ton dibandingkan 13 ton pada Maret. Sebagian besar pengiriman mengalir ke China, yang tetap menjadi tujuan utama ekspor emas dunia—pengiriman dari Inggris ke China tercatat 25 ton pada April, jauh di atas rata-rata historis untuk bulan tersebut.
Selain itu, data penyimpanan di London Bullion Market Association (LBMA) menunjukkan penurunan cadangan emas di brankas London, yang mengindikasikan peningkatan permintaan emas fisik, termasuk dari bank sentral.
Di luar permintaan institusional, SocGen menilai arah suku bunga riil Amerika Serikat menjadi faktor penentu harga emas beberapa bulan ke depan. Ekonom SocGen memperkirakan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun akan bertahan di atas 2% hingga kuartal III-2026 sebelum menurun secara bertahap pada akhir tahun dan berlanjut hingga paruh pertama 2027.
Ketika suku bunga riil masih tinggi, biaya peluang memegang emas relatif besar dan berpotensi menekan kenaikan harga. Sebaliknya, penurunan suku bunga riil diperkirakan dapat meningkatkan daya tarik emas, karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil kupon.
Dengan minat yang kuat dari bank sentral untuk menambah cadangan emas dan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter pada akhir tahun, pasar emas dianggap masih memiliki fondasi yang kokoh. Namun, perkembangan konflik geopolitik dan arah suku bunga global akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga hingga akhir tahun.

Tinggalkan Balasan