Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat upaya mengakselerasi industri gim nasional dengan menjalin kerja sama strategis bersama Coda, platform perdagangan digital internasional.
Langkah ini bertujuan membuka akses komersial bagi pengembang lokal, memperbesar peluang ekspor produk digital, dan mendorong pengembangan ekosistem gim yang lebih kompetitif di pasar global.
Angka menunjukkan potensi besar industri gim dalam negeri. Menurut Niko Partners, pendapatan industri gim Indonesia mencapai lebih dari US$1,1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan naik menjadi US$1,5 miliar pada 2030.
Sementara panggung global juga menunjukkan pertumbuhan. Laporan video gaming report 2026 dari Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan nilai industri gim dunia mencapai sekitar US$350 miliar pada 2030.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan nota kesepahaman (MoU) antara Ekraf dan Coda merupakan bukti komitmen pemerintah serta sektor swasta untuk membangun ekosistem gim yang berdaya saing internasional.
“Kolaborasi antara Coda, Ekraf, dan para pengembang gim di Indonesia bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman di atas kertas. Tapi ini adalah langkah formal yang menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemerintah dan sektor industri seperti Coda,”
Irene menambahkan bahwa kerja sama ini akan dieksplorasi melalui berbagai program guna memastikan kreator lokal dapat mengakses peluang global sekaligus memperkuat ketahanan dan daya saing industri gim Indonesia.
“Bagi semua pengembang gim di sini, Indonesia bukan hanya negeri penuh berbasis pemain gim yang besar atau target pasar yang hebat. Melalui penguatan ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa kita tidak hanya mampu memenangi kejuaran dunia sebagai pemain, tetapi juga menguasai pasar global sebagai kreator yang hebat,” kata Irene.
Data perilaku konsumen di kawasan juga menjadi pertimbangan. Niko Partners mencatat di Asia Tenggara sekitar 38% pendapatan gim mobile kini berasal dari metode pembayaran di luar aplikasi (out of app), meningkat dibandingkan 21% dua tahun sebelumnya.
Perubahan metode transaksi juga terlihat: dompet digital digunakan 55% pemain gim mobile, sedangkan hampir seperempat pemain memanfaatkan pembayaran melalui operator seluler (potong pulsa). Tren tersebut menyoroti pentingnya solusi pembayaran lokal yang adaptif untuk membantu penerbit menjangkau pemain dan mengoptimalkan pendapatan baru.
Fokus Pada Pemberdayaan Pengembang
Shane Happach, CEO Coda, menilai Indonesia memiliki komunitas pengembang gim yang dinamis. Namun, menurutnya, pengembangan bisnis gim memerlukan akses ke infrastruktur, jaringan, dan peluang komersial.
“Melalui kemitraan dengan Ekraf, kami ingin mendampingi lebih banyak pengembang dalam perjalanan tersebut. Dengan memperluas akses ke perangkat, keahlian, dan jaringan global, kami berharap dapat membantu lebih banyak studio gim di Indonesia membangun bisnis yang berkelanjutan dan menjangkau pemain di seluruh dunia,”
Dalam pelaksanaannya, kolaborasi ini akan menghadirkan program yang membekali pengembang dengan perangkat komersial, kapabilitas bisnis, dan pengetahuan untuk mendorong skala usaha dan memperluas jangkauan audiens global.
Nota kesepahaman ini melanjutkan rangkaian inisiatif sebelumnya yang didukung Ekraf. Program-program sebelumnya turut meningkatkan kapasitas lebih dari 70 pengembang lokal melalui kegiatan seperti Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta.
Selain itu, perluasan pasar internasional juga didorong melalui Codashop, marketplace milik Coda untuk pembelian konten dalam gim dan konten digital.
Empat Tren Strategis Menurut BCG
BCG mengidentifikasi empat tren strategis yang diperkirakan membentuk industri gim dalam 5–10 tahun ke depan dan membuka peluang pendapatan baru.
- AI Generatif (GenAI). Teknologi ini berpotensi mengubah proses pembuatan gim dan memicu lonjakan jumlah permainan baru. BCG mencatat pada pertengahan 2025 sekitar 20% gim baru di Steam menyatakan penggunaan AI, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
- Konten Buatan Pengguna (UGC). Ekspansi UGC diperkirakan meningkatkan keterlibatan audiens lebih luas. Ekonomi kreator di platform seperti Fortnite dan Roblox diperkirakan akan melihat pembayaran melebihi US$1,5 miliar pada 2025.
- Cloud Gaming. Perkembangan cloud gaming dipandang akan mempercepat perubahan distribusi, memperluas akses, dan mengurangi ketergantungan pada perangkat keras lokal.
- Pembukaan Toko Aplikasi Baru. Munculnya toko aplikasi alternatif menawarkan peluang bagi pengembang untuk menurunkan biaya dan mengontrol distribusi produk mereka.
Dengan landasan data dan kerja sama lintas sektor, Ekraf dan mitra berupaya memanfaatkan tren tersebut untuk memperkuat posisi industri gim Indonesia di pasar global.

Tinggalkan Balasan