Harga Emas Diprediksi Kembali Berpeluang Naik, Dua Tren Jadi Penyangga

Written by

in

Para analis menyatakan harga emas berpotensi kembali mendapatkan momentum seiring dua tren yang berjalan saat ini: penurunan harga minyak dunia dan akumulasi pembelian logam mulia oleh sejumlah pelaku pasar.

Optimisme itu muncul meski emas sempat tertekan oleh penguatan dolar AS dan masih berada di bawah level psikologis penting. Faktor eksternal dan pola permintaan disebut saling mempengaruhi prospek pasar emas ke depan.

Menurut analis di Heraeus, jika tidak ada penutupan lebih lanjut di Selat Hormuz dan penurunan harga minyak berlanjut, efek penurunan harga tersebut akan dirasakan oleh produsen dan konsumen. Kondisi ini, jika disertai penurunan indeks harga PCE dan indeks lainnya, berimplikasi pada berkurangnya kemungkinan kenaikan suku bunga, sehingga memperkuat prospek investasi untuk logam mulia.

“Jika tidak ada penutupan lebih lanjut di Selat Hormuz, penurunan harga minyak mulai diteruskan kepada produsen dan konsumen. Kemudian jika indeks harga PCE turun, bersamaan dengan indeks lainnya, kemungkinan kenaikan suku bunga juga akan berkurang, memperkuat prospek investasi untuk logam mulia,” ujar para analis tersebut.

Harga emas sempat turun di bawah US$4.000 per troy ounce pekan lalu, penurunan yang terjadi untuk pertama kali sejak November 2025. Tekanan ini sebagian besar terjadi saat pasar menilai kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif.

Analis Heraeus menambahkan bahwa penguatan dolar AS turut berkontribusi pada pelemahan harga emas karena menjadikan emas lebih mahal bagi pembeli non-dolar, meski faktor makro yang sama sering memengaruhi pergerakan kedua aset tersebut.

Akumulasi Logam Mulia Di China

Selain dinamika pasar minyak dan kebijakan moneter, akumulasi emas oleh pembeli menjadi faktor penyangga lain. Impor emas China naik ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada Mei 2026, menurut catatan analis.

Para analis mencatat, sejauh tahun ini impor emas non-moneter ke China mencapai total 691,6 ton. Angka ini naik 76% dari 393,6 ton pada periode Januari hingga Mei tahun sebelumnya, meskipun belum mencapai 840,6 ton yang diimpor pada periode yang sama tahun 2024.

“Hal ini didorong oleh permintaan yang kuat untuk emas batangan fisik dan rencana akumulasi emas di mana investor ritel dapat membeli emas dengan jumlah uang yang lebih kecil yang disetorkan setiap bulan,” terang para analis.

Catatan itu menegaskan bahwa meskipun tekanan jangka pendek datang dari faktor makro seperti penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga, permintaan fisik dan strategi akumulasi di beberapa pasar utama tetap menjadi penopang bagi prospek harga emas.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *