OJK Ingatkan Investor Muda: Riset Dulu, Jangan Terpancing Cuan Cepat

Written by

in

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau investor pemula—terutama generasi muda—untuk menempuh pendekatan hati-hati sebelum membeli produk keuangan apa pun. Riset mendalam dan pemahaman terhadap karakter produk disebut penting agar keputusan investasi dibuat berdasarkan informasi yang valid, bukan tren atau ajakan cepat kaya.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Divisi Analisis Data dan Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Salim Darmadi, pada diskusi “This Economy: Cash Is King or Investasi?” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Kenali Profil Risiko

Salim menekankan setiap calon investor perlu mengenali batas toleransi risikonya, apakah konservatif, moderat, atau agresif. “Keputusan investasi harus diambil secara sadar berdasarkan informasi valid (well-informed decision), bukan sekadar ikut-ikutan,” ujar Salim.

Sebagai rekomendasi bagi investor konservatif yang ingin menghindari volatilitas saham, Salim menyarankan mempelajari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Menurutnya, SBN ritel dijamin penuh oleh pemerintah, menawarkan imbal hasil kompetitif, dan dapat dimulai dengan modal terjangkau.

Lonjakan Investor Muda

OJK mencatat pertumbuhan investor ritel domestik yang signifikan, dari sekitar 300.000 pada 2013 menjadi lebih dari 28 juta pada 2026. Dari jumlah tersebut, kelompok usia di bawah 30 tahun—didominasi Generasi Z—mencatat porsi mayoritas, yaitu di atas 50%.

Waspadai Pengaruh Konten Keuangan

Salim juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap pembuat konten keuangan (financial influencer) yang menonjolkan keuntungan materi tanpa menyertakan edukasi tentang risiko kerugian. Ia menekankan pentingnya prinsip legal dan logis—yang disebutnya prinsip 2L—sebagai landasan pengambilan keputusan.

“Berinvestasi juga baiknya menggunakan ‘uang dingin’, di mana dana yang dialokasikan bukan untuk kebutuhan utama sehari-hari,”

Pesan itu menggarisbawahi pentingnya tidak menggunakan dana yang dibutuhkan untuk konsumsi sehari-hari saat menempatkan modal pada produk keuangan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *