Kelompok Tumbuh Bersama Usaha Kecil Menengah (KTB UKM) menegaskan peran pembina bukan sekadar transfer keterampilan teknis, melainkan misi untuk mengubah arah hidup penerima pelatihan.
Pendiri KTB UKM dr. Eddy Kristianto mengatakan ilmu pengolahan produk harus dibagikan secara inklusif tanpa memandang suku, agama, ras, maupun latar belakang daerah. Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan kegiatan nasional KTB UKM ke-2 di Quest Hotel Denpasar, Bali, 25–27 Juni 2026.
“Kelompok ini terbentuk bukan saja untuk mencetak pembina baru, melainkan agar keahlian yang dimiliki dapat membantu mewujudkan kemandirian ekonomi yang mampu mengubah arah hidup seseorang,” ujar dr. Eddy di hadapan peserta.
Dr. Eddy, yang juga dokter umum dengan latar belakang pemberdayaan masyarakat pedesaan, menyebut KTB UKM fokus pada pelatihan keterampilan manajerial dan pengembangan potensi lokal.
Melalui program ini, hasil alam unggulan dari berbagai daerah diolah menjadi produk bernilai tinggi agar mampu menembus pasar domestik dan internasional.
Arah Pelatihan dan Kurikulum
Calon pembina mengikuti masa pelatihan intensif selama dua tahun. Selain teknis pengolahan produk, pelatihan mencakup pembentukan karakter, keterampilan manajerial, pengelolaan keuangan, pengemasan (packaging), dan strategi pemasaran.
Selain aspek keterampilan, kegiatan juga menekankan pengembangan spiritualitas dan jiwa pelayanan. Rangkaian acara tiga hari ditutup dengan sesi sharing dan praktik pengolahan produk di lapangan.
Akselerasi Target 7.000 Desa
Obadja Saleman dari Divisi Pembinaan KTB UKM menyampaikan target menjangkau 7.000 desa pada tahun ini. Saat ini program baru menyentuh 841 desa di seluruh Indonesia.
“Tentu ini membutuhkan komitmen dari semua lini. Strategi kita meliputi penambahan KTB UKM onsite untuk pemberdayaan pembina lokal, peningkatan infrastruktur digital, pemetaan produk unggulan, sinergi dengan pemerintah, dan menyasar anak muda sebagai penerus keberlanjutan program,” jelas Obadja.
Peran Generasi Muda dan Pengalaman Lokal
Rusli Kuwanto, Ketua Yayasan Kemanusiaan Simpul Indonesia, menilai KTB UKM sebagai sarana bagi anak muda mengembangkan kreativitas melalui kedisiplinan dan pelatihan karakter sebelum membina Generasi Z dan Alpha.
“Saatnya anak muda yang memimpin dan berkreasi,” ujar Rusli.
Dari Nusa Tenggara Timur, Lili Bait—Koordinator KTB UKM wilayah NTT dan Ketua Yayasan Pendidikan Adi Putra Mulia—menceritakan pengalamannya. Lili resmi menjadi pembina pada April 2026 setelah menyelesaikan pelatihan dua tahun.
Lili melihat KTB UKM sebagai peluang untuk membangkitkan ekonomi NTT. Ia mengusulkan perubahan kurikulum sekolah dengan memasukkan mata pelajaran wirausaha untuk mendorong keberanian anak muda.
“Hal ini juga memberikan wadah bagi anak muda untuk mengembangkan diri mereka secara positif, sehingga terhindar dari pergaulan bebas, seks bebas, dan pernikahan dini,” kata Lili.
Upaya Keberlanjutan Untuk UMKM Desa
KTB UKM menempatkan perhatian pada keberlanjutan manajemen dan standarisasi kualitas produk lokal sebagai kunci memperkuat ekonomi pedesaan. Organisasi ini memosisikan pembina sebagai figur pendamping yang konsisten agar program bantuan ekonomi tidak berhenti setelah fase awal.
Fokus program pada wilayah dengan tantangan ekonomi tinggi seperti NTT serta pelibatan aktif Generasi Z dinilai bagian dari strategi menekan angka pengangguran, mencegah patologi sosial remaja, dan mengurangi urbanisasi tidak produktif dengan menciptakan pusat ekonomi baru dari desa.

Tinggalkan Balasan