Harga emas mencatat pergerakan fluktuatif di kisaran US$4.000 per ons sementara pelaku pasar menimbang perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran serta sinyal kebijakan bank sentral.
Pergerakan ini terlihat menjelang dimulainya putaran perundingan baru yang dikaitkan dengan upaya mengakhiri konflik yang memengaruhi tekanan inflasi global. Di sesi perdagangan, harga sempat turun tajam pada awal perdagangan Asia sebelum kembali menguat ke level sekitar US$4.030 per ons.
Perkembangan Diplomatik dan Pernyataan Iran
Pemerintah AS menyatakan negosiasi dengan Iran dijadwalkan berlangsung di Doha. Iran menyampaikan akan mengutus delegasi ahli namun menolak pertemuan secara langsung.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan komitmen Iran untuk mengawasi dan mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan itu berlawanan dengan sikap AS, Eropa, dan sejumlah negara Arab di kawasan yang menolak langkah sepihak atas pengelolaan jalur perairan strategis tersebut.
Dinamika Harga dan Tekanan Pasar
Sejak meletusnya perang pada akhir Februari lalu, harga emas tercatat turun sekitar 25% dan melintasi beberapa level teknis, termasuk moving average 200 hari yang sering dijadikan acuan tren jangka panjang.
Meskipun harga minyak global sempat menurun setelah lonjakan awal perang, ekspektasi pasar menunjukkan bank-bank sentral kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas sebagai aset non-yielding.
“Terdapat kekhawatiran yang tersisa bahwa Federal Reserve mungkin akan tetap mempertahankan sikap kontraktif mereka, meskipun harga energi sudah turun tajam,” kata Ole Sloth Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank A/S.
Hansen menambahkan sebagian pelaku pasar mungkin mulai percaya diri setelah melihat pemulihan dari level terendah pekan sebelumnya, namun menurutnya harga emas harus menembus US$4.100 terlebih dahulu sebelum bisa disimpulkan bahwa titik terendah jangka pendek telah tercapai.
Keputusan Hukum dan Sentimen Moneter
Perkembangan geopolitik ikut bertepatan dengan keputusan Mahkamah Agung AS yang mengizinkan Lisa Cook mempertahankan jabatannya di Federal Reserve. Keputusan ini keluar di tengah upaya hukum Cook melawan keputusan presiden yang ingin mencopotnya.
Putusan tersebut dinilai memperkuat independensi bank sentral AS. Dalam kondisi ini, The Fed menghadapi tekanan dari kebutuhan menurunkan suku bunga sekaligus sinyal dari beberapa pejabat internal yang menyatakan kemungkinan kenaikan biaya pinjaman untuk meredam inflasi.
Pergerakan Pasar dan Logam Lain
Di pasar spot London, harga emas dilaporkan naik 0,4% menjadi sekitar US$4.030,30 per ons pada sesi pagi. Perak menguat sekitar 1% ke level US$58,86 per ons. Di sisi lain, platinum tercatat turun sementara paladium meningkat sekitar 1%.
Indeks Dolar Spot juga bergerak naik sekitar 0,2% setelah sempat melemah beberapa sesi berturut-turut.
Peran Selat Hormuz
Fluktuasi harga emas tidak lepas dari posisi strategis Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi rute penting bagi pasokan minyak dan gas global. Rencana Iran untuk mengendalikan lalu lintas kapal di selat tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang dapat mendorong tekanan inflasi.
Bagi pembuat kebijakan moneter seperti The Fed, ancaman kenaikan inflasi energi menjadi faktor yang menyulitkan dalam menentukan arah suku bunga: mempertahankan tingkat tinggi demi meredam harga atau menurunkannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tinggalkan Balasan