Analis dari TD Securities memproyeksikan harga emas dunia akan mengalami penurunan tajam terlebih dahulu sebelum kembali menguat ke level di atas US$5.000 per troy ounce.
Bart Melek, Kepala Riset Komoditas TD Securities, memperkirakan harga emas dapat merosot ke bawah US$3.900 per troy ounce sebelum kemudian reli menuju sekitar US$5.300 per troy ounce dalam beberapa waktu mendatang.
Proyeksi Pemulihan dan Faktor Pendukung
Melek menyatakan bahwa, meskipun terancam penurunan berkelanjutan, posisi emas tetap kondusif untuk pemulihan kuat hingga 2027 dan berpotensi menembus rekor baru di atas US$5.300 per troy ounce.
Menurutnya, berakhirnya pelonggaran hambatan ekonomi dan aliran dana terkait konflik di Iran akan menjadi katalis positif bagi emas. Dia juga menunjuk ekspektasi inflasi yang rendah, pergeseran kebijakan The Fed, serta kemungkinan suntikan likuiditas sebagai faktor yang dapat menopang harga logam mulia.
“Berakhirnya pelonggaran hambatan ekonomi dan arus dana yang terkait dengan perang di Iran seharusnya memberikan katalis positif bagi emas. Sementara itu, ekspektasi inflasi yang rendah dan pergeseran kebijakan The Fed, bersamaan dengan kemungkinan suntikan likuiditas, untuk mengimbangi pelemahan ekonomi dari guncangan pasokan energi dan komoditas utama seharusnya semakin mendukung logam mulia mencapai rekor tertinggi baru,”
Risiko Jangka Pendek
Melek menggarisbawahi bahwa risiko jangka pendek terbesar bagi harga emas saat ini terkait sentimen terhadap harga minyak. Dia menilai tekanan pada minyak akan terus memengaruhi tingkat inflasi.
Dia menambahkan bahwa gangguan di Selat Hormuz yang menekan pasokan energi ke level rendah berisiko memicu rebound tajam pada pasar minyak mentah.
“Dengan gangguan di Selat Hormuz yang mengikis persediaan energi ke tingkat terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang terlalu jenuh dapat mengalami rebound tajam,”
Melek juga memperkirakan harga minyak Brent bisa bergerak ke kisaran US$90–110 per barel, yang menurutnya akan meningkatkan ekspektasi inflasi, memperkuat bias kebijakan yang restriktif, serta meningkatkan biaya carry dan peluang bagi pemegang emas.
“Kami percaya harga minyak Brent masih dapat bergerak ke kisaran US$90–110/barel, meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperkuat bias kebijakan yang restriktif, sehingga meningkatkan biaya carry dan peluang bagi pemegang emas,”

Tinggalkan Balasan