IHSG Tergelincir, Analis Soroti Bayang-Bayang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Written by

in

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan seiring kekhawatiran pasar terhadap prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Pada penutupan Selasa (30/6/2026), IHSG anjlok 177,6 poin atau 3,05% ke level 5.643,1.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan meskipun ketegangan geopolitik mulai mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membebani sentimen global.

Ekspektasi Kenaikan The Fed

Rully mencatat Federal Funds Rate (FFR) saat ini berada di 3,75% dan diperkirakan berpotensi naik 25 basis poin pada September dan Desember sehingga mencapai 4,25% pada akhir tahun.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 juga direvisi turun menjadi 3,1% dari proyeksi sebelumnya 3,3%, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitar 5%, sedikit menurun dari perkiraan 5,1%.

“Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi,”

Rully menambahkan investor terus memperhatikan faktor domestik seperti stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, serta potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.

“Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya,” kata Rully.

Sektor yang Menarik

Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih menyoroti sektor poultry sebagai salah satu sektor yang patut dicermati di tengah kondisi pasar saat ini.

Andreas menyebutkan konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia masih relatif rendah sehingga ada ruang pertumbuhan. Selain itu, peningkatan konsumsi melalui program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali akibat penurunan kuota impor grand parent stock (GPS) dan implementasi program culling, dipandang dapat meningkatkan profitabilitas industri.

“Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor,”

Strategi Portofolio

Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan menekankan pentingnya diversifikasi dalam menghadapi volatilitas pasar.

Menurut Francisca, investor perlu menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas karena setiap instrumen memiliki karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.

“Diversifikasi membantu investor mengelola risiko sekaligus tetap menangkap peluang investasi di berbagai kondisi pasar. Dengan memilih kombinasi instrumen yang tepat sesuai profil risiko, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang,”

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *