Perbankan Hadapi Ketatnya Likuiditas Meski Agregat Masih Sehat

Written by

in

Industri perbankan diperkirakan masih menghadapi tekanan likuiditas pada paruh kedua 2026 meski indikator makro secara agregat tampak memadai. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan suku bunga acuan yang tinggi, biaya dana semakin mahal sehingga bank memilih lebih selektif menyalurkan kredit.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menyatakan kondisi terasa kering bagi perbankan secara umum karena cost of fund menjadi mahal, yang berdampak pada penyaluran kredit. Untuk menanggulangi, bank mendorong penghimpunan dana murah (CASA) dan mempertimbangkan penerbitan surat utang bila diperlukan.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang terkonsentrasi di Himbara menciptakan perbedaan biaya dana antarbank, sehingga persaingan suku bunga deposito memanas. Ia menyarankan kebijakan SAL dirancang untuk mencegah perang bunga dan memastikan dana mengalir ke sektor produktif.

Secara agregat, indikator industri dinilai masih aman: DPK April tumbuh 11,39%, kredit tumbuh 9,98%, AL/NCD 111,13%, AL/DPK 25,39%, dan LDR 86,87%. Namun menurut Josua, rata-rata industri itu menutupi tekanan mikro, termasuk perbedaan likuiditas antarbank, perebutan deposan besar, penurunan dana murah, dan penyerapan dana ke SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik.

SRBI dan Persaingan Dana

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menyebut kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin tahun ini memberi tekanan langsung terhadap biaya dana perbankan. Kenaikan tersebut mendorong repricing dana masyarakat, mendorong bunga deposito naik, sehingga menekan net interest margin (NIM).

Hery menuturkan outstanding SRBI hingga Mei 2026 mencapai Rp979,9 triliun, naik dari Rp730,9 triliun pada akhir 2025, dan tembus Rp1.021 triliun pada akhir Juni. Dari jumlah itu, sekitar Rp677 triliun dimiliki perbankan. Lonjakan SRBI menciptakan dua tekanan: memperketat persaingan dengan deposito dan menyerap likuiditas pasar dalam jumlah besar.

“Yang mengalir ke SRBI mengurangi volume dana yang tersedia untuk intermediasi perbankan. Kalau melihat kondisi di pasar, likuiditas sudah hampir kering,” ujar Hery.

Meski demikian, Hery menilai fundamental industri masih kuat dengan pertumbuhan kredit 11,51% (yoy) dan DPK meningkat 13,47% (yoy) per Mei 2026. LDR pada April 2026 tercatat 86,88% dan CAR masih tebal di 23,97%. Namun ia mengingatkan indikator mulai menunjukkan tekanan: pertumbuhan DPK melambat, NIM terkompresi, dan CAR sedikit menurun.

Musiman dan Prospek Semester II

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai tekanan likuiditas pada akhir Juni bersifat musiman dan berpotensi membaik pada semester II-2026. Posisi excess reserve perbankan pada 26 Juni tercatat Rp9,84 triliun, jauh lebih rendah dibanding saat penempatan SAL yang sempat mendorong excess reserve mencapai Rp261,98 triliun.

Myrdal mengatakan penipisan likuiditas dipicu kebutuhan pembayaran akhir bulan, seperti arus keluar modal asing, pembayaran dividen investor asing, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan devisa impor. Meski demikian, ia optimistis likuiditas bisa membaik seiring meredanya tensi geopolitik dan potensi aliran investasi asing.

Respon Himbara terhadap Penempatan SAL

Himbara menyambut penempatan dana SAL oleh pemerintah sebagai langkah strategis menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung fungsi intermediasi. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan kebijakan ini dapat memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi untuk mendanai sektor produktif tetap terjaga, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyebut kolaborasi erat antara pemerintah dan perbankan penting untuk memperkuat efektivitas kebijakan fiskal dan mendukung penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Direktur Utama BRIS Anggoro Eko Cahyo menambahkan pengelolaan SAL yang optimal membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan industri perbankan untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan pasar.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *